·
ZAHRA HUYAM
·
·
·
Musim dingin ini Datang terlalu Awal, seperti
kejadian malam yang kemarin tiba tiba than membuat hilang konsentrasi,
Zahra.
"Assalamu'laikum,,,, assalamu'laikum,,,,''
"Assalamu'laikum,,,, assalamu'laikum,,,,''
Sapaan Kiky, tidak juga
membuat Zahra menolehnya.
"Zahra, cook nyahut salamku ya?'' Kiky, bertanya dengan hatinya.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,,, Ukhti Zahra Huyam!" Sambil menepuk Bahu, Zahra.
Seketika juga Zahra membalikkan badanya than menjawab salam yang tertuju padanya.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,, uh,,, Ukhti Kiky, tumben ada apa Ukhti?'' jawabnya.
"Zahra, cook nyahut salamku ya?'' Kiky, bertanya dengan hatinya.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,,, Ukhti Zahra Huyam!" Sambil menepuk Bahu, Zahra.
Seketika juga Zahra membalikkan badanya than menjawab salam yang tertuju padanya.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,, uh,,, Ukhti Kiky, tumben ada apa Ukhti?'' jawabnya.
·
suasana Hening Hanya sapuan angin Pagi yang
menyapa mereka. Ada
keinginan berbicara tapi selalu kerongkongan Zahra seperti terkunci
rapat.
"Hmm,,,, ada apa sebenarnya ukhti Zah?''
"Hmm,,,, ada apa sebenarnya ukhti Zah?''
'' Emm,, kemarin Umi kirim surat than memintaku
pulang, Ukhti Kiky.'' Jawab Zahra menundukkan kepalanya. Surat yang diterimanya Bukan Hanya sekedar
permintaan biasa, lebih dari itu yang membuat Zahra Harus berfikir berkali
potash.
'' Jadi Umimu menyuruh Ukhti
pulang ke Indonesia ,
ya,,, seneng dong Biar nanti Bisa dateng ke walimah kakaku.'' Kiky memberi
semangat than kabar buat Zahra.
"Apa! Walimah siapa ukhti, ukhti mau ngambil liburan kuliah than zuad ?'' tanya ZahraTehran
than membelalakan Matanya.
"Iya, zuad, tapi kakaku cook.''
'Maksudnya Ukhti Aini than akhi Bintang?'' Zahra Tambah penasaran.
Kiky mengambil undangan dari bag punggungnya than menyerahkan amplop Hijau muda ketangan Zahra.
" Nih, baca aja siapa nama yang punya Hajat.'' Kiky tersenyum.
Sejenak Zahra lupa tentangsurat
dari Umi, Karena tidak percaya dengan yang Berita didengarnya. Apa itu
sebenarnya isi surat .
"Bener, Ukhti Aini menikah bulan depan Akhi Bintang putranya Ibu Ida kepala Administrasi Kedubes Amman can Ukhti?, Mabruk buat calon kedua mempelai, salam untuk poop Aini, Ukhti.'' senyuman dengan dua Lesung pipinya mulai terlihat dipipi Zahra.
"Apa! Walimah siapa ukhti, ukhti mau ngambil liburan kuliah than zuad ?'' tanya Zahra
"Iya, zuad, tapi kakaku cook.''
'Maksudnya Ukhti Aini than akhi Bintang?'' Zahra Tambah penasaran.
Kiky mengambil undangan dari bag punggungnya than menyerahkan amplop Hijau muda ketangan Zahra.
" Nih, baca aja siapa nama yang punya Hajat.'' Kiky tersenyum.
Sejenak Zahra lupa tentang
"Bener, Ukhti Aini menikah bulan depan Akhi Bintang putranya Ibu Ida kepala Administrasi Kedubes Amman can Ukhti?, Mabruk buat calon kedua mempelai, salam untuk poop Aini, Ukhti.'' senyuman dengan dua Lesung pipinya mulai terlihat dipipi Zahra.
·
Senyuman Zahra pun dibalas oleh
Kiky. "Insya Allah, aku sampaikan. Kala gitu aki pamit Dulu sudah
pukul sepuluh,, hhhmmm .... sweet day'' Kiky menarik Nafas than mulai berjalan
Pelan meninggalkan Zahra yang yang Masih menikmati hangatnya Mentari tepat
menerpa wajahnya.
"Aku pamit Dulu ukhti , wassalamu'lakum ...''
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, hati hati Ukhti!"
Apa yang diikirkan Zahra saat ini adalah keputusannya untuk masa depannya, tapi mungkin caraNya ini untuk membuka hati yang kecewa Zahra. Tiga tahun yang Lalu, sebelum keputusannya menetap than belajar untuk diAmman adalah keputusan Karena kecewa.
"Siapa dengan hati yang tahu than kecewaku, setidaknyaAmman , memang Benar Benar membuatku Aman.''
lirihnya Dalam hati.
Dari jauh Zahra melihat kakak yang sangat disayanginya , Musim dingin ini memang memberi Warna bagi Zahra.
"Aa" .... ngapain? Aya 'Naon,,, Aa'?'' Qamar, memberikan bungkusan kepada Zahra.
"Nte 'Naon Naon, Masuk rumah, Yam,,, diluar dingin.'' Jawab Qamar.
"Aku pamit Dulu ukhti , wassalamu'lakum ...''
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, hati hati Ukhti!"
Apa yang diikirkan Zahra saat ini adalah keputusannya untuk masa depannya, tapi mungkin caraNya ini untuk membuka hati yang kecewa Zahra. Tiga tahun yang Lalu, sebelum keputusannya menetap than belajar untuk di
"Siapa dengan hati yang tahu than kecewaku, setidaknya
Dari jauh Zahra melihat kakak yang sangat disayanginya , Musim dingin ini memang memberi Warna bagi Zahra.
"Aa" .... ngapain? Aya 'Naon,,, Aa'?'' Qamar, memberikan bungkusan kepada Zahra.
"Nte 'Naon Naon, Masuk rumah, Yam,,, diluar dingin.'' Jawab Qamar.
Zahra menuruti saja perkataan
Kakaknya, Bukan hall yang buat aneh Zahra, Karena Qamar memang orang yang Cool
than Ramah, branch jarang Teman Teman Zahra menayakan apakan Qamar sudah
menikah atau Belum. Termasuk Kiky, Sahabat Karib Zahra. Setahun yang
Lalu, Qamar baru saja menikah dengan Terang Bulan, mahasiswi Biological
Scient. Umi Zahra memiliki dua putrid dan satu putra. Beruintung sekali Ibu Aan Anamah memiliki putra
putri yang berbakti than cerdaa Semua anaknya lulusan universitas Mesir than Amman .
baru saja meletakkan
sarung tangannya di Meja, Zahra memberikan undangan kepada Qamar.
"Aa" dapet undangan dari Ukhti Kiky, Ukhti Aini menikah bulan depan.''
"Bulan depan? Kebetulan Aa 'pulang dong, Neng sekalian aja ikut liburan can bareng Kiky, lagian gak sama kangen Umi, poop Rien, calon sama adik iparmu juga, poop Bulan sudah Tujuh bulan LHO .... hey,,, hey,,,, " "Qamar Panjang Lebar merayu Huyam, Zahra eel suka dipanggil Huyam, nama putri yang berartiTurkistan " CINTA.
"
"Aa" Huyam lagi lieur, ah,,,'' Zahra meninggalkan Qamar yang sedang membaca undangan Hijau muda itu.
"Aa" dapet undangan dari Ukhti Kiky, Ukhti Aini menikah bulan depan.''
"Bulan depan? Kebetulan Aa 'pulang dong, Neng sekalian aja ikut liburan can bareng Kiky, lagian gak sama kangen Umi, poop Rien, calon sama adik iparmu juga, poop Bulan sudah Tujuh bulan LHO .... hey,,, hey,,,, " "Qamar Panjang Lebar merayu Huyam, Zahra eel suka dipanggil Huyam, nama putri yang berarti
"Aa" Huyam lagi lieur, ah,,,'' Zahra meninggalkan Qamar yang sedang membaca undangan Hijau muda itu.
·
"Kunaon, Huyam? Sakit grandpa?'' Perhatian
Qamar mulai terlihat.
Belum ada sepuluh menit Zahra Huyam, menghampiri Qamar.
"Aa", Huyam teh gak salah denger? Teh Bulan udah Tujuh bulan?Cook, gak ada yang ngabarin huft,,, terlalu.'' Sifat manjanya terlihat.
"Buat kejutan sebentar kamu lagi mau Jadi aunt, hehee ...''
Belum ada sepuluh menit Zahra Huyam, menghampiri Qamar.
"Aa", Huyam teh gak salah denger? Teh Bulan udah Tujuh bulan?Cook, gak ada yang ngabarin huft,,, terlalu.'' Sifat manjanya terlihat.
"Buat kejutan sebentar kamu lagi mau Jadi aunt, hehee ...''
'' Gak Umi, Poop Rien, Teh Bulan semuanya ngeselin.'' Zahra memang tidak
suka bila ada yang sesuatu terjadi dengan keluarganya than tidak diberi
tahu. Tapi, Qamar mempunyai Jurus Jitu than tahu keadaan adiknya.
"Kamu nyimpen masalahmu Sendiri, Yam. Jadi, Semua khawatir sama kamu apalagi Umi.'' Qamar mencoba menjelaskan kepada Zahra
"Kamu nyimpen masalahmu Sendiri, Yam. Jadi, Semua khawatir sama kamu apalagi Umi.'' Qamar mencoba menjelaskan kepada Zahra
Zahra
Huyam Hanya membalas dengan senyuman.
Dua lagi hari Qamar meninggalkanAmman ,
setelah ujian kuliah Musim dingin Semua mahasiswa than mahasiswi Kembali Ke Indonesia
untuk liburan musijm dingin.
Kalau tidak Kembali ke tanah air pun, mereka berkunjung keMalaysia
atau Mesir, atau juga ikut Teman Teman mencari material Tesis.
Bagi Zahra Sendiri pulang tidak pulang sama saja, kalau untuk menahan kerinduan dengan Umi, cukup bicara than curhat berjam jam di telepon kangennya sudah Bisa terobati.
"Musim dingin ini aku Benar Benar Sendiri, Ukhti Kiky libur than menghadiri Ukhti Aini, tinggal giliran Ukhti Kiky saja menikah dengan akhi Dicky Bezones.'' lagi lagi Zahra Hanya bicara dengan hatinya.
Dua hari ini akhirnya tiba juga. Qamar pulang keIndonesia
dengan penerbangan Pagi, sejak Subuh Zahra mengantar kakaknya than Kembali
sudah agak Siang. Siang juga mata hari yang Terang tetap kurang memberi
kehngatan Karena dinginnya semakin Turun.
"Gak ada Tugas kuliah, organ Isasi juga sudah Beres, Buka FB aja ah ...'' Dalam Fikiran Zahra, Hanya berharap menemukan cinta yang berlalu selama tahun tiga.
FB. ...........
"Semua atas IzinKu''
Status anda baru saja diperbaharui
Like Hapus ........
5 ...... 2 komentar like "Iya''
1'' Inbox Assalamu'alaikum,,, Ukhti Zah?'' sapa Kiky.
Balas inbox'' Wa'alaikumsalam,, wr,, wb .. Ukhti Kiky, gmana rencana liburan ke tanah air?''
1'' Inbox Jadi, insyaAllah, ukhti Sendiri Jadi gak? Atau pulang bareng Ibu Ida Erawati aja.''
'' Balas whaaaatttt! Ukhti Kiky mau mati temanmu mendadak? Bukan gak mau, tapi aku Segan.''
Inbox 1 "o,,, begitu.''
Dua lagi hari Qamar meninggalkan
Kalau tidak Kembali ke tanah air pun, mereka berkunjung ke
Bagi Zahra Sendiri pulang tidak pulang sama saja, kalau untuk menahan kerinduan dengan Umi, cukup bicara than curhat berjam jam di telepon kangennya sudah Bisa terobati.
"Musim dingin ini aku Benar Benar Sendiri, Ukhti Kiky libur than menghadiri Ukhti Aini, tinggal giliran Ukhti Kiky saja menikah dengan akhi Dicky Bezones.'' lagi lagi Zahra Hanya bicara dengan hatinya.
Dua hari ini akhirnya tiba juga. Qamar pulang ke
"Gak ada Tugas kuliah, organ Isasi juga sudah Beres, Buka FB aja ah ...'' Dalam Fikiran Zahra, Hanya berharap menemukan cinta yang berlalu selama tahun tiga.
FB. ...........
"Semua atas IzinKu''
Status anda baru saja diperbaharui
Like Hapus ........
5 ...... 2 komentar like "Iya''
1'' Inbox Assalamu'alaikum,,, Ukhti Zah?'' sapa Kiky.
Balas inbox'' Wa'alaikumsalam,, wr,, wb .. Ukhti Kiky, gmana rencana liburan ke tanah air?''
1'' Inbox Jadi, insyaAllah, ukhti Sendiri Jadi gak? Atau pulang bareng Ibu Ida Erawati aja.''
'' Balas whaaaatttt! Ukhti Kiky mau mati temanmu mendadak? Bukan gak mau, tapi aku Segan.''
Inbox 1 "o,,, begitu.''
·
Inbox 3 pesan
"Tapi Ukh Zah, can Ibu Dubes sudah deket kita dengan?''
'Atau,, hehee,, Takut dengan anaknya ...''
"Ups ..maaf, mumpung Masih ada satu bangku kalo mau lagi ikut mudik, ya ... bicara yang ringan atau diam saja can Jadi gak sungkan.''
Pesan inbox sedikit membuka Kenangan Zahra.
Balas: "hmmm, aku tau Belum Ukhti, liburan ini mungkin nyelesain novel Dulu,Alexandria
menungguku, hihiii. '' ..
Zahra mengakhiri FB, Karena adzan sudah menggema.
"Tapi Ukh Zah, can Ibu Dubes sudah deket kita dengan?''
'Atau,, hehee,, Takut dengan anaknya ...''
"Ups ..maaf, mumpung Masih ada satu bangku kalo mau lagi ikut mudik, ya ... bicara yang ringan atau diam saja can Jadi gak sungkan.''
Pesan inbox sedikit membuka Kenangan Zahra.
Balas: "hmmm, aku tau Belum Ukhti, liburan ini mungkin nyelesain novel Dulu,
Zahra mengakhiri FB, Karena adzan sudah menggema.
·
Siang
seperti Pagi, mata hari redup dinginnya Amman
mengukuhkan tekad Zahra bahwa do'anya akan tetap menjadi penguat keyakinannya
kepada Rabb, maha pengabul do'a menjadikan sandaranya.
Sudah Lepas dzuhur, rumput Jepang di jalan pelataran Setapak menuju kelontongan diamatinya toko dengan seksama. "Rumpat jepang than putri malu Masih diselimuti Embun, ternyata dingin tahun ini lebih dingin dari hatiku yang branch Bisa membuka lagi. Seperti putri malu yang terbungkus Embun tipis, Tembus Pandang tapi sukar terbuka untuk disentuh.'' Pikirannya terus meracu ketiga tahun silam.
Sampai di toko, Zahra Hanya membeli copy panas than contraction mocca ditambah kentang goreng yang panas Masih.
Berlalu dari toko, Zahra menghampiri Kampus untuk meminjam Buku sebagai referensinya makalah tentang Perkembngan Modern Islam di Moscow.
"Assalamu'alaikum,,, Paman Kahfi, Boleh saya meminjam Buku Duty Of Moscow?'' senyuman Hangat sebagai keramahan orang pribumi tersungging diwajah Zahra.
"Wa'alaikusalam ya,, hareem hally, silakan than jngan lupa dibaca ya?'' Jawab paman Kahfi.
"InsyaAllah than pasti saya baca.''
Setelah selesai meminjam, Suara rada samar terdengar dari arah belakang.
Sudah Lepas dzuhur, rumput Jepang di jalan pelataran Setapak menuju kelontongan diamatinya toko dengan seksama. "Rumpat jepang than putri malu Masih diselimuti Embun, ternyata dingin tahun ini lebih dingin dari hatiku yang branch Bisa membuka lagi. Seperti putri malu yang terbungkus Embun tipis, Tembus Pandang tapi sukar terbuka untuk disentuh.'' Pikirannya terus meracu ketiga tahun silam.
Sampai di toko, Zahra Hanya membeli copy panas than contraction mocca ditambah kentang goreng yang panas Masih.
Berlalu dari toko, Zahra menghampiri Kampus untuk meminjam Buku sebagai referensinya makalah tentang Perkembngan Modern Islam di Moscow.
"Assalamu'alaikum,,, Paman Kahfi, Boleh saya meminjam Buku Duty Of Moscow?'' senyuman Hangat sebagai keramahan orang pribumi tersungging diwajah Zahra.
"Wa'alaikusalam ya,, hareem hally, silakan than jngan lupa dibaca ya?'' Jawab paman Kahfi.
"InsyaAllah than pasti saya baca.''
Setelah selesai meminjam, Suara rada samar terdengar dari arah belakang.
"Nak Zahra!" panggil
Ibu Ida.
"Ibu, ada apa ya ...?'' jawabnya cepat.
"Cuma mau tanya, nak Zahra ikut mudik keIndonesia ?''
'tidak, Bu, Masih ada kegiatan seminar tiga hari di sini.'' Zahra merasa aneh.
"O. .., kalau nak Zahra memang mau ke liburanIndonesia kita pulang bareng,
Kakakmu Qamar sudah memesan bangku untukmu. Sebelum pulang kemarin Qamar,
memberitahu Ibu, ya ... sudah tidak apa, Ibu duluan ya, Bapak sudah menunggu
ibu di depan, hati hati ya! "Lima
menit berlalu bayangan Ibu Idah sudah tidak ada.
Zahra merasa aneh sepertinya Semua untuk orang menginginkannya Kembali ke tanah air.
Sementara di Indonesia sedang Ramai mempersiapkan pernikahan Aqu Aini than Bintang Johar, keluarga Zahra juga sibuk Karena Qamar tidak berhasil membujuk Zahra pulang.
"Kumaha atuh, Qamar, Huyam encan Datang. Sebentar lagi may tinggal hitungan hari.'' Uminya Gusar Takut Zahra Benar Benar tidak Datang.
"Umi, sabar aja Dulu, kalo memang Zahra tidak Datang, Datang ke kita yangAmman .'' Jawab Qamar
menenangkan Uminya.
"Ibu, ada apa ya ...?'' jawabnya cepat.
"Cuma mau tanya, nak Zahra ikut mudik ke
'tidak, Bu, Masih ada kegiatan seminar tiga hari di sini.'' Zahra merasa aneh.
"O. .., kalau nak Zahra memang mau ke liburan
Zahra merasa aneh sepertinya Semua untuk orang menginginkannya Kembali ke tanah air.
Sementara di Indonesia sedang Ramai mempersiapkan pernikahan Aqu Aini than Bintang Johar, keluarga Zahra juga sibuk Karena Qamar tidak berhasil membujuk Zahra pulang.
"Kumaha atuh, Qamar, Huyam encan Datang. Sebentar lagi may tinggal hitungan hari.'' Uminya Gusar Takut Zahra Benar Benar tidak Datang.
"Umi, sabar aja Dulu, kalo memang Zahra tidak Datang, Datang ke kita yang
·
Iya, Umi tau, tapi can lebih baik di tanah
kelahiran Sendiri, Cuma kamu yang Bisa bujuk si Huyam, kalo dengan Rien, slide
tidak mempan, Rien juga sibuk dengan anak anaknya.'' Umi On Benar Benar tidak
sabar dengan hall ini.
"Umi tau can Huyam, kalo dipaksa Bisa Bisa tidak akan pulang dua tahun untuk kedepan.'' Dengan Pelan Qamar memberi pengertian kepada Umi.
"Ya, kita tunggu saja klau begitu.'
"Umi tau can Huyam, kalo dipaksa Bisa Bisa tidak akan pulang dua tahun untuk kedepan.'' Dengan Pelan Qamar memberi pengertian kepada Umi.
"Ya, kita tunggu saja klau begitu.'
·
"Abah, gimana ini, Zahra tidak ikut pulang
tapi ada Amanah dari Qomar, tiket buat Zahra.'' Ibu Ida
bingung Karena Zahra tidak ikut, Karena tiket akan hangus.
"Ya gimana mau lagi, wong Zahra ndak liburan, Mi. Nanti kalau sudah tiba Indonesia saja di kita sowan lalu minta maaf, Bukan ndak Amanah tapi Zahra memang tidak pulang bareng kita.'' Grab Uchok menjelaskan kepada Istrinya.
"Ya kalau gitu pamit kita sama saja Zahra.'' Ibu Ida Tehran kenapa di belikan tiket anaknya saja tidak mau liburan.
"Ku memohon Dalam sujudku PadaMu, ampunilah Ségala dosa Dalam Diri ...''
Salah satu nasyid kesukaan Zahra yang dijadikan nada change, terdengan nyaring.
"Assalamu'alaikum, Nak Zahra"
"Wa'alaikumsalam , warahmatullahi, wabarakatuh, Ibu Dubes, saya Sendiri.''
"Kami, mau terbang satu jam lagi, tapi tiket nak Zahra akan hangus kalau tidak dipakai, bagaimana?'' tanyanya.
"tidak apa apa, Ibu, Saya bisa tidak cuti keIndonesia ,
maaf
merepotkan.''
'Kalau begitu tidak apa apa, kami pamit Nak ya! Wassalamu'alaikum.'' Suara pun terputus.
"Wa'alaikumsalam,,''
Zahra menarik Nafas, then membaringkan tubuhnya yang letih setelah seminar di hari ketiga, banyak opini than pendapat yang menjadi argumentasi di
"Ya gimana mau lagi, wong Zahra ndak liburan, Mi. Nanti kalau sudah tiba Indonesia saja di kita sowan lalu minta maaf, Bukan ndak Amanah tapi Zahra memang tidak pulang bareng kita.'' Grab Uchok menjelaskan kepada Istrinya.
"Ya kalau gitu pamit kita sama saja Zahra.'' Ibu Ida Tehran kenapa di belikan tiket anaknya saja tidak mau liburan.
"Ku memohon Dalam sujudku PadaMu, ampunilah Ségala dosa Dalam Diri ...''
Salah satu nasyid kesukaan Zahra yang dijadikan nada change, terdengan nyaring.
"Assalamu'alaikum, Nak Zahra"
"Wa'alaikumsalam , warahmatullahi, wabarakatuh, Ibu Dubes, saya Sendiri.''
"Kami, mau terbang satu jam lagi, tapi tiket nak Zahra akan hangus kalau tidak dipakai, bagaimana?'' tanyanya.
"tidak apa apa, Ibu, Saya bisa tidak cuti ke
'Kalau begitu tidak apa apa, kami pamit Nak ya! Wassalamu'alaikum.'' Suara pun terputus.
"Wa'alaikumsalam,,''
Zahra menarik Nafas, then membaringkan tubuhnya yang letih setelah seminar di hari ketiga, banyak opini than pendapat yang menjadi argumentasi di
di seminar itu tapi perasaan sepi
Datang than mengusik pikiran Zahra.
"Astagfirullah, kenapa dengan pikiranku.''
Berkali potassium Zahra wudhu than membaca Qur'an tapi perasaan tidak enak selalu Datang.
Apa lagi Musim dingin seperti tidak tepat untuk berjalan kluar rumah, kebanyak mereka lebih senang tinggal di rumah di berada depan tungku perapian than mengkaji peradaban Islam yang menyebar ke Penjuru Dunia.
INDONESIA
"Umi Abah sama, Sehat aja can selama di Amman.'' tanya Ibu anak Dubes.
"Alhamdulillah, tapi Masih gak enak ya Bah, Karena ada yang titip ANGER LABEL, Lusa kita sampaikan ke Qamar kalau Zahra tidak pulang, seperti punya Hutang rasanya.
Baru seminggu setelah pernikahan Aini than Bintang, Kiky baru memberi kabar kepada Zahra, bahwa pestanya meriah, Teman Teman pelajar dariAmman , Mesir Datang, then Teh Datang Bulan
juga poop Qamar.
Sedikit Berita itu membuat Zahra senang, then Masih ada waktu tiga Minggu lagi diIndonesia .
"Astagfirullah, kenapa dengan pikiranku.''
Berkali potassium Zahra wudhu than membaca Qur'an tapi perasaan tidak enak selalu Datang.
Apa lagi Musim dingin seperti tidak tepat untuk berjalan kluar rumah, kebanyak mereka lebih senang tinggal di rumah di berada depan tungku perapian than mengkaji peradaban Islam yang menyebar ke Penjuru Dunia.
"Umi Abah sama, Sehat aja can selama di Amman.'' tanya Ibu anak Dubes.
"Alhamdulillah, tapi Masih gak enak ya Bah, Karena ada yang titip ANGER LABEL, Lusa kita sampaikan ke Qamar kalau Zahra tidak pulang, seperti punya Hutang rasanya.
Baru seminggu setelah pernikahan Aini than Bintang, Kiky baru memberi kabar kepada Zahra, bahwa pestanya meriah, Teman Teman pelajar dari
Sedikit Berita itu membuat Zahra senang, then Masih ada waktu tiga Minggu lagi di
·
Apa yang terjadi memang ini pilihanNya, apa
yang sudah menjadi pilihannya juga pilihanNya.
"Paman Kahfi, saya ingin mengembalikan buku. Boleh saya minta tolong, Paman?''
"Paman Kahfi, saya ingin mengembalikan buku. Boleh saya minta tolong, Paman?''
"Ya,Jamilah , katakan apa
yang bisa paman bantu?'' Paman Kahfi langsung menyodorkan kertas dan pena.
Seperti biasanya bila Zahra membutuhkan buku yang kurang hafal penulisnya.
Dengan sedikit ragu, Zahra memberanikan diri. "Paman, kali ini bukan buku yang saya butuhkan, tapi...'' belum selesai Zahra meneruskan permohonanya, Bibi Qori datang tersenyum dan menyerahkan amplop ungu bertuliskan Zahra Huyam disebelah namanya ada gambar mawar diikat pita putih.
"Paman hampir lupa ada titipan untukmu dari pemuda yang berkunjung kesini dua hari yang lalu, dan pesannya, Nak Zahra harus membuka amplop itu ketika sampai diIndonesia .
"Apa! Siapa paman orang itu, Bibi, siapa dia?'' Zahra seperti tidak mengerti permainan takdir atau suatu kebetulan.
"Baiklah, Bibi, Paman, terimakasih saya pamit dulu, wassalamu'alaikum.''
Disambarnya syal hitam untuk menutupi punggungnya lalu dililitkan dengan cepat melingkari bagian bahu, untuk menambah hangatnya suhu badan.
Udara dingin yang terus turun hampir delapan derajat, dan malam hari bisa sampai dua derajat.
"Siapa yang memberiku amplop ini.''
Zahra terus bertanya tanya,
Kembalinya di tempat kos, Zahra mengeluarkan Pasport, Visa dan baju seperlunya, malam itu juga Zahra memutuskan kembali keIndonesia .
Dengan sedikit ragu, Zahra memberanikan diri. "Paman, kali ini bukan buku yang saya butuhkan, tapi...'' belum selesai Zahra meneruskan permohonanya, Bibi Qori datang tersenyum dan menyerahkan amplop ungu bertuliskan Zahra Huyam disebelah namanya ada gambar mawar diikat pita putih.
"Paman hampir lupa ada titipan untukmu dari pemuda yang berkunjung kesini dua hari yang lalu, dan pesannya, Nak Zahra harus membuka amplop itu ketika sampai di
"Apa! Siapa paman orang itu, Bibi, siapa dia?'' Zahra seperti tidak mengerti permainan takdir atau suatu kebetulan.
"Baiklah, Bibi, Paman, terimakasih saya pamit dulu, wassalamu'alaikum.''
Disambarnya syal hitam untuk menutupi punggungnya lalu dililitkan dengan cepat melingkari bagian bahu, untuk menambah hangatnya suhu badan.
Udara dingin yang terus turun hampir delapan derajat, dan malam hari bisa sampai dua derajat.
"Siapa yang memberiku amplop ini.''
Zahra terus bertanya tanya,
Kembalinya di tempat kos, Zahra mengeluarkan Pasport, Visa dan baju seperlunya, malam itu juga Zahra memutuskan kembali ke
Pesawat
enam jam lagi mendarat di Bandara Soekarno Hatta, dan butuh dua jam untuk
sampai untuk ke kediamannya. Tapi pesawat akan di Malaysia dua setengah jam
kemungkinan pukul sepuluh pagi tiba di rumah.
"Yaa, Rabb....tunjukkan siapa pemuda pengirim amplop ini, dan mengapa harus kembali keIndonesia untuk membuka dan
membacanya.'' penasaran dan kesal menjadi satu di benaknya.
Tanpa terasa dan karena lelah, Zahra tertidur dan kembali terbangun saat pramugari membangunkannya.
"Nona, kita sudah mendarat.'' kata pramugari itu.
"Yaa, Rabb....tunjukkan siapa pemuda pengirim amplop ini, dan mengapa harus kembali ke
Tanpa terasa dan karena lelah, Zahra tertidur dan kembali terbangun saat pramugari membangunkannya.
"Nona, kita sudah mendarat.'' kata pramugari itu.
"Pak,
tolong antar saya ke sisingamarja tiga nomer seratus tujuh, Pak!" sambil
mengencangkan sabuk pengaman sebuah taksi biru melaju cepat.
Hanya dua puluh menit, taksi itu sampai di depan rumah Zahra.
"Terima kasih, Pak. Kembaliannya ambil saja.''
"Terima kasih, kembali Neng.''
Zahra bingung mendpati keadaan rumahnya yang ramai, walaupun tamu yang datang tidak terlihat dari luar tapi suara mereka ramai terdengar.
Ruang tamu itu memang khusus untuk tamu, tidak terlihat dari luar atau pintu masuk, ruangan itu menghadap ke taman samping rumah, sedangkan Zahra masuk lewat pintu dapur.
"Assalamu'alaikum,,,Teh Bulan!" Zahra mendapati kakak iparnya sedang membuatkan teh.
Seperti tidak asing suaranya, lirih Bulan.
"Wa'alaikumslam,warahmatullahi wabarkatuh,,,Huyam!, cepat masuk kami semua menunggumu, mandi dan rapihkan terus sarapan.''
Bulan sangat menyayangi Zahra adik iparnya semata wayang, karena Bulan adalah anak tunggal sedangkan Qomar anak nomer dua, jadi Zahra adalah adik bungsu mereka.
Bulan mengeluarkan minuman dan memanggil suaminya.
"Aa' Qomar, bisa kedalam sebentar!" pamitnya.
Qomar mengikuti Bulan jlan ke dapur.
"Ada
apa, Bulan sayang?'' tnya Qomar.
"Huyam, sudah pulang sekarang ada di kamar.'' kata Bulan.
"Beneran? Kasih tau Umi kalo gitu, biar sekalian hari ini acaranya. Tamunya juga hari ini sudah datang.'' Qomar semangat.
"Sudah sampai, ya,,,terima kasih.''
Tanpa lama lama Zahra memasuki kamar kecil di Bandara Soekarno Hatta, untuk merapihkan jilbab hitam warna favoritnya.
"Pak, tolong antar saya ke sisingamarja tiga nomer seratus tujuh, Pak!" sambil mengencangkan sabuk pengaman sebuah taksi biru melaju cepat.
Hanya dua puluh menit, taksi itu sampai di depan rumah Zahra.
"Terima kasih, Pak. Kembaliannya ambil saja.''
"Terima kasih, kembali Neng.''
Zahra bingung mendpati keadaan rumahnya yang ramai, walaupun tamu yang datang tidak terlihat dari luar tapi suara mereka ramai terdengar.
Ruang tamu itu memang khusus untuk tamu, tidak terlihat dari luar atau pintu masuk, ruangan itu menghadap ke taman samping rumah, sedangkan Zahra masuk lewat pintu dapur.
"Assalamu'alaikum,,,Teh Bulan!" Zahra mendapati kakak iparnya sedang membuatkan teh.
Seperti tidak asing suaranya, lirih Bulan.
"Wa'alaikumslam,warahmatullahi wabarkatuh,,,Huyam!, cepat masuk kami semua menunggumu, mandi dan rapihkan terus sarapan.''
Bulan sangat menyayangi Zahra adik iparnya semata wayang, karena Bulan adalah anak tunggal sedangkan Qomar anak nomer dua, jadi Zahra adalah adik bungsu mereka.
Bulan mengeluarkan minuman dan memanggil suaminya.
"Aa' Qomar, bisa kedalam sebentar!" pamitnya.
Qomar mengikuti Bulan jlan ke dapur.
"Ada
apa, Bulan sayang?'' tnya Qomar.
"Huyam, sudah pulang sekarang ada di kamar.'' kata Bulan.
"Beneran? Kasih tau Umi kalo gitu, biar sekalian hari ini acaranya. Tamunya juga hari ini sudah datang.'' Qomar semangat.
Hanya dua puluh menit, taksi itu sampai di depan rumah Zahra.
"Terima kasih, Pak. Kembaliannya ambil saja.''
"Terima kasih, kembali Neng.''
Zahra bingung mendpati keadaan rumahnya yang ramai, walaupun tamu yang datang tidak terlihat dari luar tapi suara mereka ramai terdengar.
Ruang tamu itu memang khusus untuk tamu, tidak terlihat dari luar atau pintu masuk, ruangan itu menghadap ke taman samping rumah, sedangkan Zahra masuk lewat pintu dapur.
"Assalamu'alaikum,,,Teh Bulan!" Zahra mendapati kakak iparnya sedang membuatkan teh.
Seperti tidak asing suaranya, lirih Bulan.
"Wa'alaikumslam,warahmatullahi wabarkatuh,,,Huyam!, cepat masuk kami semua menunggumu, mandi dan rapihkan terus sarapan.''
Bulan sangat menyayangi Zahra adik iparnya semata wayang, karena Bulan adalah anak tunggal sedangkan Qomar anak nomer dua, jadi Zahra adalah adik bungsu mereka.
Bulan mengeluarkan minuman dan memanggil suaminya.
"Aa' Qomar, bisa kedalam sebentar!" pamitnya.
Qomar mengikuti Bulan jlan ke dapur.
"
"Huyam, sudah pulang sekarang ada di kamar.'' kata Bulan.
"Beneran? Kasih tau Umi kalo gitu, biar sekalian hari ini acaranya. Tamunya juga hari ini sudah datang.'' Qomar semangat.
"Sudah sampai, ya,,,terima kasih.''
Tanpa lama lama Zahra memasuki kamar kecil di Bandara Soekarno Hatta, untuk merapihkan jilbab hitam warna favoritnya.
"Pak, tolong antar saya ke sisingamarja tiga nomer seratus tujuh, Pak!" sambil mengencangkan sabuk pengaman sebuah taksi biru melaju cepat.
Hanya dua puluh menit, taksi itu sampai di depan rumah Zahra.
"Terima kasih, Pak. Kembaliannya ambil saja.''
"Terima kasih, kembali Neng.''
Zahra bingung mendpati keadaan rumahnya yang ramai, walaupun tamu yang datang tidak terlihat dari luar tapi suara mereka ramai terdengar.
Ruang tamu itu memang khusus untuk tamu, tidak terlihat dari luar atau pintu masuk, ruangan itu menghadap ke taman samping rumah, sedangkan Zahra masuk lewat pintu dapur.
"Assalamu'alaikum,,,Teh Bulan!" Zahra mendapati kakak iparnya sedang membuatkan teh.
Seperti tidak asing suaranya, lirih Bulan.
"Wa'alaikumslam,warahmatullahi wabarkatuh,,,Huyam!, cepat masuk kami semua menunggumu, mandi dan rapihkan terus sarapan.''
Bulan sangat menyayangi Zahra adik iparnya semata wayang, karena Bulan adalah anak tunggal sedangkan Qomar anak nomer dua, jadi Zahra adalah adik bungsu mereka.
Bulan mengeluarkan minuman dan memanggil suaminya.
"Aa' Qomar, bisa kedalam sebentar!" pamitnya.
Qomar mengikuti Bulan jlan ke dapur.
"
"Huyam, sudah pulang sekarang ada di kamar.'' kata Bulan.
"Beneran? Kasih tau Umi kalo gitu, biar sekalian hari ini acaranya. Tamunya juga hari ini sudah datang.'' Qomar semangat.
Qomar memberi tahu Umi, betapa
bahagia Umi hari ini, begitu membawa Berkah, ucapan sholawat dan pujian Syukur
selalu terlantun dari Ibunda tercinta, sementara tamu di temani oleh kakak
pertamnya Rien Aruna dan adik Umi, Sri Fitrianingsih.
"Umi.....! Ma'afin Zahra Umi.'' pelukan dan air mata menetes tanpa bisa di bendung, sejak tiga tahun meninggalkanIndonesia ini adalah pertemuannya
kembali dengan Umi, wanita yang rela merawatnya, membesarkn susah payah.
"Gak apa apa Huyam, Umi bahagia sekali, Nak,," dikecupnya kening Zahra karena cinta.
"Umi, isisurat ,
apa perlu, Yam jawab sekarang?''
Karena isisurat
dari Umi, belum Zahra balas sampai sekarang. Perihal perjodohannya dengan
pemuda yang meminangnya. Apapun jawaban Huyam, Umi meridhoinya, Umi gak mau Yam
tertekan karena perjodohan ini, Yam sudah berdo'a dan berusaha Umi hnya
meridhoimu, Nak.''
Pelukan itu semakin erat.
"Yaa,,,Rabb, bagaimana aku membalas cinta kasih, Umi yaa Rabb, izinkan Umi menempati JannahMu yaa Rabb."
Do'a Zahra untuk Umi tercinta dalam hatinya.
"Umi.....! Ma'afin Zahra Umi.'' pelukan dan air mata menetes tanpa bisa di bendung, sejak tiga tahun meninggalkan
"Gak apa apa Huyam, Umi bahagia sekali, Nak,," dikecupnya kening Zahra karena cinta.
"Umi, isi
Karena isi
Pelukan itu semakin erat.
"Yaa,,,Rabb, bagaimana aku membalas cinta kasih, Umi yaa Rabb, izinkan Umi menempati JannahMu yaa Rabb."
Do'a Zahra untuk Umi tercinta dalam hatinya.
"Sudah,
jangan nangis! Sekarang temui dulu tamunya dan keluarkan kue buat tamu kita,
setelah itu baru jawab surat
Umi.'' Umi membetulkan jilbab Huyam, dan tersenyum.
"Iya, Umi. Zahra gak akan ngecewain Umi, Bissmillah.''
Zahra membawa baki mengeluarkankan kue dengan kepala sedikit tertunduk, tidak berani menatap tamunya.
"Silakan dicicipi, Pak, Bu, kuenya!"
"Terimakasih, Nak Zahra.''
Zahra tersentak mendengar suara itu, dengan terpaksa Zahra mengangkat wajahnya, yang dihadapannya adalah Ibu dan Bapak Dubes Amman.
"Subhanallah, Ibu Ida,,,,Bapak Uchok...Umi, apakah mereka yang Umi maksud?'' tanya Zahra.
Umi, hanya menganggukkan kepala.
Ketika Zahra mengeluarkan kue, kebetulan anak mereka keluar dengan Qomar untuk memarkir mobil yang terkena sinar matahari.
Semua yang hadir diruang itu terharu, tapi Zahra masih penasaran siapa dan apa isi amplop ungu itu.
"Iya, Umi. Zahra gak akan ngecewain Umi, Bissmillah.''
Zahra membawa baki mengeluarkankan kue dengan kepala sedikit tertunduk, tidak berani menatap tamunya.
"Silakan dicicipi, Pak, Bu, kuenya!"
"Terimakasih, Nak Zahra.''
Zahra tersentak mendengar suara itu, dengan terpaksa Zahra mengangkat wajahnya, yang dihadapannya adalah Ibu dan Bapak Dubes Amman.
"Subhanallah, Ibu Ida,,,,Bapak Uchok...Umi, apakah mereka yang Umi maksud?'' tanya Zahra.
Umi, hanya menganggukkan kepala.
Ketika Zahra mengeluarkan kue, kebetulan anak mereka keluar dengan Qomar untuk memarkir mobil yang terkena sinar matahari.
Semua yang hadir diruang itu terharu, tapi Zahra masih penasaran siapa dan apa isi amplop ungu itu.
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh......
Bunga Cintaku, Zahra Huyam
Ma'afkan kakak, untuk tiga tahun yang telah berlalu.
Dikediaman hati ku, engkaulah
Calon bidadariku
Calon pendamping hidup yang aku nantikan tiga tahun lalu.
Yang penuh sabar menantiku dengan do'a
Menantiku dengan harapan kepadaNya.
Zahra Huyamku, calon kakak dan adik adik iparku, calon anak umi dan abahku
Tiga tahun lalu, aku mendiami
Keputusanmu karena
Itu yang terbaik untuk kita
Karena ridhoNya lebih aku inginkan
Untuk membangun mahligai cinta
Aku tidak menyapa hatimu karena aku belum berani menduakan cintaNya
Aku masih lumpuh untuk memikirkan hati yang belum pasti.
Tapi sekarang dengan do'amu
Akulah yang Rabb tentukan untuk meminangmu, Bunga Cinta itu adalah
Zahra Huyam.
Bersediakah Zahra menjadi bagian dari rencanaNya, untuk menemani hidupku.
Bersediakah, Zahra menjadi Bunga Cinta
Dengan anak anak yang akan kita rawat bersama, dan bersediakah Zahra Huyam menikah dengan ku.
Bila Zahra melepas mawarnya, Zahra menolakku
Bila Zahra melepaskan ikatan pita putihnya, Zahra menerimaku.
Tiga tahun lalu, aku menantimu untuk menjadi pendampingku.
Aku,
Eron Al - Anshor Na'im
Wassalam
Air mata bahagia ini disaksikan oleh kedua orang tua Eron ,
Umi dan kerabat yang hadir.....
Hanya Qomar dan Eron yang tidak ada diruangan itu. Zahra berulang kali menarik
nafas....
"Yaa,,,Rabb, ni'matMu yang mana yng harus kudustai, penantian dan do'a ini, Engkaulah yang berkendak.'' Do'a pun terus dilirihkan Zahra.
"Yaa,,,Rabb, ni'matMu yang mana yng harus kudustai, penantian dan do'a ini, Engkaulah yang berkendak.'' Do'a pun terus dilirihkan Zahra.
Zahra merapihkan kembali amplop itu,
Baru saja ingin meletakkannya di meja Qomar dan Eron datang.
Baru saja ingin meletakkannya di meja Qomar dan Eron datang.
"Assalamu'alaikum....'' Qomar dan Eron sama sama mengucapkan salam.
Kak Rien dan Bulan, hanya menjawab pelan dan memberi isyarat anggukkan kepala agar mereka masuk. Eron terkejut .....
Kak Rien dan Bulan, hanya menjawab pelan dan memberi isyarat anggukkan kepala agar mereka masuk. Eron terkejut .....
"Yaa....Rabb, apapun kehendakMu, semua ini yang baik untukku.''
Ternyata Zahra melepas mawar itu dan meletakkan kembali amplop ungunya.
Eron, hanya bisa menundukkan wajahnya ketika Zahra melepas mawar itu.
Ternyata Zahra melepas mawar itu dan meletakkan kembali amplop ungunya.
Eron, hanya bisa menundukkan wajahnya ketika Zahra melepas mawar itu.
"Yaa,,,Rabb
perkenankan do'a ku sekarang! Izinkan Zahra menjadi bidadari dunia dan
akheratku, Aamiinn yaa,,,,Rabb.'' setelah melihat mawar itu dilepas, Eron,
hanya pasrah dengan keputusan Zahra.
Lalu..... Zahra melepaskan pita putih yang mengikat mawar itu.
Tngisan bahagia mengiringi ucpannya.
Lalu..... Zahra melepaskan pita putih yang mengikat mawar itu.
Tngisan bahagia mengiringi ucpannya.
"Umi, Huyam menerima perjodohan ini.''
Mendengar Zahra mengucapkan itu, semua menjawab...
"ALHAMDULILLAH"
Mendengar Zahra mengucapkan itu, semua menjawab...
"ALHAMDULILLAH"
Haru biru tumpah menjadi tawa dan tangis.
"Ya, Rabb.....inilah janjiMu, janjiMu tidak
pernah ingkar.Terima kasih yaa...Allah.''
Ucapan syukur Eron, kpada Rabbnya bahwa semua indah setelah tiga tahun.
Menunggu tanpa kabar,demi menjaga kesucian hati kepada Rabbnya.
"Abah, Umi...Bunga Cinta Eron mekar dihadapan Abah sama Umi.'' ucap Eron.
Ketika cinta bertasbih jantungku berdenyut kencang..... :)
Pernikahan Zahra dan Eron dilaksanakan satu minggu kemudian, sederhana dan khidmat.
Pesta walimahpun sederhana hanya teman dekat, kerabat, tetangga, danlima
puluh anak yatim piatu mereka undang untuk menikmati kebahagiaan mereka.
"Kak Eron, lihat mereka selalu tersenyum dan tawa yang hadir, walau pun mereka merindukan orang tua yang penuh kasih dan cinta, mereka sabar dan qona'ah.'' bisik Zahra menunjuk yatim piatu yang asik bercanda dan antri jajanan khusus untuk tamu undangan.
Ucapan syukur Eron, kpada Rabbnya bahwa semua indah setelah tiga tahun.
Menunggu tanpa kabar,demi menjaga kesucian hati kepada Rabbnya.
"Abah, Umi...Bunga Cinta Eron mekar dihadapan Abah sama Umi.'' ucap Eron.
Ketika cinta bertasbih jantungku berdenyut kencang..... :)
Pernikahan Zahra dan Eron dilaksanakan satu minggu kemudian, sederhana dan khidmat.
Pesta walimahpun sederhana hanya teman dekat, kerabat, tetangga, dan
"Kak Eron, lihat mereka selalu tersenyum dan tawa yang hadir, walau pun mereka merindukan orang tua yang penuh kasih dan cinta, mereka sabar dan qona'ah.'' bisik Zahra menunjuk yatim piatu yang asik bercanda dan antri jajanan khusus untuk tamu undangan.
"Ya, mereka sangat gmbira seperti kita saat ini.''
balasnya.
"Emm, Kak, Huyam mau tanya sesuatu kenapa pilihan di amplop ungu seperti itu? Pasti ada maknanya?'' tanya Zahra.
Keindahan Sisingamaraja begitu bersinar ketika lengkungn janur kuning menghiasi gang yang menuju rumah Zahra, sholawat dan nasyid merdu memeriahkan walimah mereka.
"Jika mawar itu Cinta lepas, maka Cinta bukan Bunga yang menghiasi rumah tangga kita, karena sudah terlepaslah Zahra Huyamku.
Tapi, jika melepas talinya saja.Bearti harapanku memilikimu, selain diizinkan oleh pemiliknya, Allah memang menjodohkan kita dengan ikatan putih yang suci dan halal, aku juga boleh merinduimu, menyayangimu dan mencintaimu dengan RidhoNya.''
Senyuman termanis Zahra Huyam memancar dari wajahnya yang merona.
"Emm, Kak, Huyam mau tanya sesuatu kenapa pilihan di amplop ungu seperti itu? Pasti ada maknanya?'' tanya Zahra.
Keindahan Sisingamaraja begitu bersinar ketika lengkungn janur kuning menghiasi gang yang menuju rumah Zahra, sholawat dan nasyid merdu memeriahkan walimah mereka.
"Jika mawar itu Cinta lepas, maka Cinta bukan Bunga yang menghiasi rumah tangga kita, karena sudah terlepaslah Zahra Huyamku.
Tapi, jika melepas talinya saja.Bearti harapanku memilikimu, selain diizinkan oleh pemiliknya, Allah memang menjodohkan kita dengan ikatan putih yang suci dan halal, aku juga boleh merinduimu, menyayangimu dan mencintaimu dengan RidhoNya.''
Senyuman termanis Zahra Huyam memancar dari wajahnya yang merona.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
, .